Ancaman Abrasi di Indonesia, Dampak dan Pencegahan
Oleh
: Ahmad Lazuardi Sanjaya (5020201046)
Departemen
Teknik Kelautan, Fakultas Teknologi Kelautan,
Institut
Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Indonesia memiliki Posisi yang cukup
strategis, yaitu terletak di kawasan khatulistiwa yang berada di antara dua
samudera, Samudera Hindia dan Pasifik, dan dua benua, Asia dan Australia. Laut
Indonesia yang semula seluas ± 3.166.000 km2 menjadi ± 6juta km2 menurut versi
ZEE. Indonesia yang merupakan negara maritime, dimana 2 per 3 wilayahnya yang merupakan
perairan atau lautan tentu saja memiliki banyak perbatasan antara daratan dan
lautan yang disebut pantai. Dengan banyaknya pantai di Indonesia tentu saja
belum semuanya sudah dimanfaatkan oleh manusia untuk dijadikan suatu hal yang
memiliki nilai seperti dijadikan tempat wisata dsb. Namun dengan Indonesia yang
diapit oleh dua samudera tentu saja tidak semua pantai bisa dimanfaatkan oleh
manusia, karena besarnya gelombang yang ada di beberapa daerah yang ada di laut
Indonesia tentu saja menyebabkan suatu fenomena alam yang dinamakan abrasi
pantai yang secara singkat bisa dikatakan sebagai pengikisan pantai.
Mempelajari ilmu tentang pantai tentu tidak lepas dari proses yang
bernama Abrasi. Abrasi sendiri adalah suatu proses pengikisan lapisan tanah
yang disebabkan oleh derasnya gelombang laut yang ada disekitar pantai dimana
gelombang tersebut bersifat merusak. Di Indonesia, Abrasi merupakan suatu hal
yang umum terjadi di pesisir pesisir pantai di berbagai tempat di Indonesia. Pengikisan
pantai atau abrasi ini sendiri tentu saja dapat merugikan jika sampai
menghancurkan pantai-pantai indah yang dimiliki di Indonesia. Sudah banyak berbagai pantai di penjuru
Indonesia yang mengalami abrasi sehingga abrasi ini harus dicegah. Jadi
sudah sewajarnya untuk kita memiliki kesadaran dalam menghadapi ancaman dari
abrasi yang dapat menghancurkan pantai yang kita miliki. Pada tahun 2019 sendiri BNPB (Badan Nasional
Penanggulangan Bencana) sendiri mencatat sebanyak 18 kali Abrasi yang terjadi
di Indonesa yang bahkan menimbulkan korban jiwa. BNPB pun memperkirakan akan
semakin banyak abrasi yang terjadi di Indonesia seiring bertambahnya tahun
dikarenakan berbagai hal, salah satunya karena krisi iklim.
Abrasi biasa terjadi di
wilayah pesisir Indonesia, Beberapa wilayah pesisir
di Indonesia yang memiliki wilayah estuaria cukup luas, yaitu di Sumatera,
Kalimantan, Jawa dan Irian Jaya. Estuaria sendiri merupakan wilayah pesisir
yang memiliki tingkat kesuburan tinggi, karena sifat-sifat laut sendiri masih mempengaruhinya,
(misalnya pasang surut) dan karena dipengaruhi oleh adanya kegiatan yang ada di
darat, (misalnya pemukiman, industri, pertanian dalam bentuk sedimentasi).
sifat-sifat kaut sendiri bisa jadi menjadi factor terjadinya suatu abrasi
begitu juga dengan kegiatan yang ada di darat mungkin saja berdampak secara
tidak langsung terhadap terjadinya abrasi di pesisir pantai. Wilayah pesisir adalah wilayah yg sangat
rentan terhadap degradasi lingkungan misalnya
pencemaran lingkungan, kerusakan habitat, over exploitasi sumberdaya alam, pengikisan pantai, konversi tempat lindung sebagai pembangunan & bala alam
lainnya. Salah satu efek neegatif terhadap perkembangan daerah pantai yang mengakibatkan perubahan lingkungan merupakan erosi yang mengakibatkan perubahan garis pantai. Abrasi pantai mampu terjadi secara alami karena
gelombang & aktivitas
manusia misalnya
pembangunan pelabuhan, tempat industri, ekspansi tambak yang memaksa terjadinya penebangan hutan
mangrove.
Masalah abrasi pantai akhir-akhir
ini cenderung meningkat di berbagai daerah, Abrasi sendiri adalah salah satu
masalah yang mengancam kondisi pantai , yang dapat mengancam garis pantai atau
pesisir pantai sehingga mundur ke belakang, menghancurkan tambak dan persawahan
yang terletak di pantai, dan juga
mengancam bangunan yang berbatasan langsung dengan air laut, kedua bangunan
yang berfungsi sebagai tempat wisata. dukungan dan akomodasi warga. Abrasi
pantai didefinisikan sebagai pemindahan pantai dari posisi semula. Abrasi atau
erosi pantai disebabkan oleh transportasi sedimen di sepanjang pantai, sehingga
mengakibatkan pergerakan sedimen dari satu lokasi ke lokasi lain. Transportasi
sedimen di sepanjang pantai terjadi ketika arah gelombang membentuk sudut dengan garis normal pantai.
Penyebab dan Proses
Terjadinya Abrasi
Secara garis besar, penyebab abrasi dapat terjadi karena dua faktor, yaitu faktor alam
dan manusia.
· Faktor Alam
Proses terjadinya abrasi karena faktor alam disebabkan oleh
angin yang bertiup di atas lautan yang menimbulkan gelombang dan arus laut
sehingga mempunyai kekuatan untuk mengikis daerah pantai. Dampaknya adalah
gelombang yang tiba di pantai dapat menggetarkan tanah atau batuan yang lama
kelamaan akan terlepas dari daratan.
Contoh fenomena alam yang mengakibatkan terjadinya
abrasi adalah pasang surut air laut dan gelombang serta arus laut yang
berpotensi menimbulkan kerusakan sebagai akibat dari angin yang kencang di atas
lautan. Fenomena-fenomena alam tersebut tidak dapat dihindari karena laut
memiliki siklus tersendiri, ada kalanya angin berhembus kencang dan berpotensi
menghasilkan gelombang yang merusak, ada juga saatnya angin hanya berhembus
sewajarnya.
· Faktor Manusia
Abrasi
juga disebabkan oleh faktor manusia, misalnya penambangan pasir. Penambangan
pasir sangat berperan banyak terhadap abrasi pantai, baik di daerah tempat
penambangan pasir maupun di daerah sekitarnya karena terkurasnya pasir laut
akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan dan arah arus laut yang menghantam
pantai.
Faktor ulah manusia yang dapat mengakibatkan terjadinya
abrasi antara lain eksploitasi yang berlebihan terhadap kekayaan laut seperti
ikan dan terumbu karang sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem
laut. Faktor lain yang menyebabkan
ketidakseimbangan ekosistem bahari atau ekosistem laut yaitu penambangan pasir. Penambangan pasir yang dilakukan secara berlebihan dan terus menerus tanpa henti menggunakan
pengerukan pasir sebesar mungkin dengan intensitas yang
sangat tinggi bisa menyebabkan terkurasnya pasir pada lautan. Hal itu menaruh imbas secara eksklusif terhadap arah & kecepatan air laut yg secara otomatis akan eksklusif menghantam bibir pantai. Air laut akan lebih
ringan jika tidak membawa pasir sehingga air tersebut dapat lebih cepat dan
lebih keras menghantam bibir pantai sehingga kemungkinan terjadinya abrasi akan
meningkat.
Selain kedua faktor utama tersebut ada
beberapa faktor lain yang juga menjadi alasan dari proses
terjadinya suatu abrasi yang ada di pantai antara lain adalah
Ø
Kerusakan Hutan
Mangrove
Hutan
mangrove adalah komponen primer pembentuk ekosistem pesisir yang krusial bagi kelangsungan ekosistem. Mangrove bisa sebagai pelindung alami pantai lantaran akarnya yang kokoh bisa menunda sedimen &
meredam kekuatan gelombang air bahari yang menghantam bibir pantai. Dengan istilah lain hutan mangrove bisa berperan menjadi pembentuk lahan (land cruiser).
Ø
Kerusakan Akibat
Gaya Hidrodinamika
Gaya
hidrodinamika gelombang bisa terjadi waktu pantai pada syarat seimbang yang dinamik. Suatu pantai bisa dikatakan pada syarat demikian dalam waktu orientasi pantai menunjuk nisbi tegak lurus atau sejajar menggunakan zenit gelombang dominan. Gelombang yang semula lurus akan mengalami belokan dampak proses shoaling dan proses
difraksi atau refraks. Ketika terjadi hal tadi maka pantai akan mengorientasikan dirinya tegak lurus arah gelombang
hinggai terjadi keseimbangan.
Ø
Penurunan Permukaan
Tanah
Turunnya bagian atas tanah pada daerah pesisir bisa terjadi lantaran adanya pemompaan air tanah yang hiperbola buat kepentingan industri & buat memenuhi kebutuhan air rakyat kurang lebih daerah pesisir.
Penurunan bagian atas tanah akan lebih potensial terjadi bila sebagian akbar tanah pantai mempunyai komposisi tanah yang tersusun
atas lumpur atau lempung lantaran jenis
tanah lempung mempunyai sifat fisik yang gampang berubah lantaran perubahan kadar air. apabila penurunan
air tanah terjadi, tekanan air pori akan semakin berkurang. Akibatnya
terjadilah genangan yang berpotensi menaikkan pengikisan & erosi
pantai. Selain itu, pemanfaatan air tanah bebas juga bertekanan menggunakan sumur bor pada wilayah-wilayah eksklusif bisa menyebabkan
elevasi air tanah menurun bersamaan menggunakan
terjadinya intrusi air bahari sampai jauh
menuju perkotaan. Hal tadi memperlihatkan bahwa
penurunan tanah mempunyai potensi yg relatif akbar terhadap genangan yang terjadi dalam ketika air bahari pasang.
Selain faktor-faktor penyebab pengikisan yg sudah dijelaskan
sebelumnya, masih ada juga penyebab lain yang menyebabkan
tergerusnya daratan pesisir, yakni perubahan iklim dunia yang mengakibatkan
terjadinya syarat alam ekstrem misalnya siklon tropis. Selain itu, naiknya bagian atas air laut pula semakin meningkatkan
kecepatan terjadinya
pengikisan. Permukaan air laut yg meningkat tadi ditimbulkan sang pemanasan dunia yang menyebabkan gelombang pasang meningkat.
Proses pengikisan dampak faktor
alam yang ditimbulkan oleh hembusan angin pada bagian atas air laut yg menyebabkan arus laut dan gelombang yang menghantam bibir pantai menggunakan kuat.
Gelombang yang menghantam tempat bibir pantai akan memecah struktur batuan atau tanah yang secara berkelanjutan akan mengikis dan menghanyutkannya menurut daratan.
Selain itu, tiupan angin pula akan
menerjang daratan pantai yg menyebabkan abrasi tanah dalam bibir
pantai. Sedangkan pengikisan yg ditimbulkan sang faktor manusia, contohnya karena penambangan pasir memiliki mekanisme atau proses yg ditimbulkan oleh
berkurangnya volume pasir, batuan atau tanah pada daerah bibir pantai, sebagai akibatnya berpengaruh terhadap kecepatan angin & kekuatan arus laut yang menghantam
daerah pantai.
Dampak
dari Abrasi
Abrasi
tentu saja memiliki dampak tersenderi bagi wilayah pantai. Berikut ini adalah
beberapa dampak yang bisa terjadi karena abrasi:
v Penyusutan Area Pantai
Penyusutan area pantai merupakan imbas pengikisan yg paling nyata. Gelombang dan arus bahari yang bertenaga akan menyebabkan hantaman keras dalam daerah pantai, dan menggerus batuan dan tanah. Akibatnya, bebatuan dan tanah
berpisah secara perlahan berdasarkan daerah daratan dan lalu tergenang sang air. Bagi sektor pariwisata, tentu pengikisan pula menyebabkan
kerugian. Kondisi ini mengancam kelangsungan hayati penduduk yang tinggal pada lebih kurang pantai dan
penduduk yang membuka bisnis pada tempat pantai.
v Rusaknya Hutan Bakau di Sekitar Pantai
Selain menjadi tempat asal tumbuhan dan fauna, hutan bakau mempunyai manfaat dan tujuan buat mengurangi risiko terjadinya pengikisan pantai. Namun, hutan bakau tidak akan berfungsi apabila syarat pengikisan telah tidak bisa dikendalikan lagi. Terutama ketika musim badai dan disertai menggunakan syarat keseimbangan
ekosistem laut yang sudah rusak.
v Hilangnya Habitat Flora dan Fauna
Area pesisir maupun pantai yang semakin sering
terkikis oleh gelombang laut dikarenakan abrasi tentu saja menyebabkan rusaknya
ekosistem laut, hilangnya habitat-habitat ikan-ikan. Pada akhirnya, ikan akan
mencari tempat lain untuk hidup dan berkumpul. Sayangnya, di tempat hidup yang
lain belum tentu ikan-ikan tersebut mampu bertahan hidup, karena adanya ancaman
dari predator dan kemungkinan suhu yang tidak sesuai dengan habitat asalnya.
Kematian populasi ikan tertentu akan mengganggu keseimbangan ekosistem laut dan
bersifat merugikan.
Pencegahan
Abrasi
Pencegahan-pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya abrasi di pantai-pantai di Indonesia seperti:
Menanam Tanaman Bakau Wilayah Pesisir Pantai
Pohon bakau adalah jenis pepohonan pantai yang mempunyai akar menjulur ke pada air. Bakau biasanya ditanam pada sepanjang garis pantai. Pohon bakau berfungsi sebagai pembatas area laut menggunakan wilayah pantai yang berpasir. Bakau yang tumbuh dan berkembang mempunyai akar kuat, sebagai akibatnya bisa menunda gelombang dan arus laut. Adanya hutan bakau juga menaruh manfaat lain, misalnya menjaga stabilitas garis pantai, mengurangi pengaruh jika terjadi tsunami, lokasi pengendapan lumpur, menunda hembusan angin laut, menjadi asal plasma nutfah, menjadi asal oksigen, dan sebagai daerah asal ragam spesies misalnya kepiting, burung, dan ikan.
2. Membangun Pemecah Gelombang (Breakwater)
Untuk mengurangi dampak kerusakan yang ditimbulkan di sekitar pesisir, pembuatan bangunan pemecah ombak juga dapat dilakukan. Tujuan dari pemecah gelombang laut adalah meredam kekuatan ombak yang tiba di garis pantai agar tidak terlalu besar, sehingga berpotensi mengikis padatan yang ada di titik tertentu. Salah satu cara pencegahan abrasi adalah dengan pemasangan breakwater. Pada umumnya kebanyakan breakwater adalah breakwater terpancang (fixed breakwater) yang berada di pesisir pantai. Namun pada lokasi tertentu akan sangat efektif untuk membuat dan memasang breakwater terpancang karena berbagai hal seperti biaya yang dibutuhkan lebih murah dsb. Sehingga dibuatlah suatu inovasi bernama breakwater terapung (floating breakwater).
Breakwater sendiri adalah bangunan atau struktur yang berada di wilayah pesisir pantai dan berfungsi untuk menahan gelombang. Breakwater Terapung memiliki Struktur dimana biasanya terapung di permukaan perairan dan terikat oleh kabel atau rantai ke dasar perairan. Breakwater terapung sendiri umumnya berada di pantai dengan gelombang ringan atau di daerah Pelabuhan.
3. Melestarikan Terumbu Karang
Terumbu karang memiliki berbagai manfaat,
antara lain untuk tempat hidup ikan dan mengurangi kekuatan gelombang serta
arus laut.
Dengan berkurangnya kekuatan gelombang serta arus laut, akan mampu mengurangi
terjadinya proses abrasi di pantai-pantai.
Abrasi merupakan suatu
fenomena alam yang tidak bisa dianggap biasa saja. Untuk itu, diperlukan upaya
yang tepat dan cermat dalam mengatasi abrasi agar keseimbangan ekosistem
daratan dan ekosistem perairan tetap terjaga. Rusaknya banyak pantai di Indonesia karena abrasi,
tentu saja menjadi ancaman yang sudah sepantasnya diberi perhatian lebih agar
kita tidak sampai kehilangan banyak pantai di Indonesia, bahkan bisa juga
kehilangan fauna-fauna karena dampak lanjutan. Jika tidak segera
ditangani, kerusakan wilayah pesisir akan semakin parah dan tidak menutup
kemungkinan akan menimbulkan masalah baru bagi lingkungan maupun bagi
kelestarian ekosistem pantai. Sehingga
pencegahan-pencegahan harus mulai dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat yang
bersangkutan bukan hanya masyarakat pesisir namun juga oleh pemerintah setempat
maupun pusat.
Komentar
Posting Komentar